portal berita online wilayah sumatera - indonesia

Saturday
Mar 13th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home arrow Headline
Alamak Jang, Pertamina Tarik Minah Subsidi PDF Cetak E-mail
Thursday, 29 October 2009

Medan - tribunsumatera.com
Program konversi minyak tanah tahap pertama di Sumatera Utara yang digelar di lima kabupaten dan kota dinilai sukses atau sudah mencapai 93,39%. Pertamina pun, sejak Oktober 2009 ini, mulai menarik minyak tanah bersubsidi dari pasaran secara bertahap.

Asisten Manager External PT Pertamina Region I, Fitri Erika, mengatakan, hingga kini sudah 876.195 paket yang didistribusikan dari pencacahan yang sejumlah 963.383 rumah tangga dan usaha kecil yang menjadi sasaran program itu. “Hanya di Medan yang distribusinya belum 100%, sedangkan Deliserdang, Serdang Bedagai, Langkat, dan Binjai sudah didistribusikan 100%. Di Medan dari 263.957 yang dicacah, jumlah tabung perdana yang sudah didistribusikan mencapai 176.669 rumah tangga sasaran dan usaha kecil,” katanya, Rabu (28/10).
Program konversi minyak tanah itu memiliki empat tahap mulai survei, sosialisasi, distribusi dan penarikan minyak tanah. Memasuki Oktober 2009, kata dia, tahap keempat dilaksanakan dengan pertimbangan program itu sudah berjalan minimal 80%.
“Berkaitan dengan rencana penarikan BBM itu, maka telah dilakukan sosialisasi kepada agen minyak tanah selaku pengelola pangkalan minyak tanah di lima daerah tersebut. Dan penarikan telah mulai kita lakukan secara bertahap dengan mengurangi jatah pasokan minah ke pangkalan-pangkalan,” katanya.
Program ini dilaksanakan berdasarkan Peraturan Presiden No 104 Tahun 2007 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Penetapan Harga Elpiji Tabung 3 Kg dan Peraturan Menteri ESDM No 21/2007 tentang Penyelanggaraan Penyediaan dan Pendistribusian Elpiji Tabung 3 Kg.
“Kalau tahap satu selesai, maka program konversi akan dilanjutkan tahap kedua yang akan dilakukan di delapan kota/kabupaten, masing-masing Kota Tebing Tinggi, Tanjung Balai, Pematang Siantar, Kabupaten Asahan, Batubara, Labuhan Batu, Karo dan Simalungun,” katanya.
Dewasa ini, sedang dilakukan survei dan sosialisasi yang dilakukan konsultan yang ditunjuk Departemen ESDM. Kendati mendapat tentangan dari sejumlah warga dan pangkalan minyak tanah atas konversi energi ini, namun sebagian pangkalan mengaku pasrah saja.
Seperti dituturkan Silaban, seorang pemilik pangkalan minah di Jalan 2 Pulo Brayan Bengkel Medan. Ia mengaku siap berkonversi komoditas energi dari minah menjadi elpiji 3 kg. Baginya yang penting tidak ada kelangkaan dan konsumen bisa lancar memakai elpiji 3 kg yang disubsidi pemerintah tersebut.
“Sosialisasi itu yang paling penting karena ketakutan warga dengan gas masih menjadi momok penolakan di Medan,” tukasnya.
Saat ini, pihaknya sudah mengurangi pasokan minah ke pengecer sekitarnya. Alasannya karena dari pihak Pertamina sudah mengurangi kuota minah untuk warga seiring dengan kebijakan akan ditariknya subsidi minah untuk warga. Jika biasanya seminggu pengecer mendapat jatah 50 liter, jadi dikurangi sepertiga jumlahnya, dengan harga beli Rp3.300 per liter.
(bs/mbo/mdn/per/min/sum/rk/red/tribunsumatera.com)
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >