portal berita online wilayah sumatera - indonesia

Thursday
Mar 11th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home arrow Headline
Alamak Jang, Baru Direhab 315 Juta Sekolah Sudah Ambruk PDF Cetak E-mail
Wednesday, 02 December 2009
Tapanuli Selatan - tribunsumatera.com
Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) H Mahmud Lubis mengaku kecewa dan prihatin atas pelaksanaan pengerjaan pembangunan rehabilitasi gedung SD di Kabupaten Tapsel.

Bahkan gedung SDN 101900 Pintu Padang, Kecamatan Saipar Dolok Hole (SDH) yang belum rampung pembangunannya namun sudah ambruk.
Dari 158 unit SD yang menerima dana alokasi khusus (DAK), 120 gedung yang ditinjau pembangunannya amburadul dan bahan material yang dipergunakan sangat buruk.

Hal tersebut ditegaskan, H Mahmud Lubis dalam rapat dengar pendapat dengan Kadis Pendidikan Pemkab Tapsel Drs Marasahud, Kepala Sekolah SD Negeri 101900 Desa Pintu Padang, Kecamatan Saipar Dolok Hole dan Konsultan Proyek Yunus Hutasuhut di gedung DPRD Tapsel, Selasa(1/12).

“Warga yang melihat langsung peristiwa itu melaporkan bangunan sekolah itu ambruk ke tanah pada hari Kamis (26/11) sekitar pukul 12.00 WIB. Dan pada hari yang sama kami langsung menceknya dan memang benar, bangunannya sudah ambruk,” kata Mahmud Lubis.

Padahal baru beberapa hari sebelumnya, Komisi III juga sudah melakukan peninjauan ke daerah Sipirok sekitarnya. Di kecamatan tersebut terdapat 41 unit sekolah mendapatkan DAK tahun 2009.
Ditegaskan Mahmud kegiatan monitoring Komisi III ke seluruh sekolah penerima DAK bidang pendidikan, TA 2009 bukan untuk mencari-cari masalah atau kesalahan. Tapi semata-mata untuk penyelamatan anggaran sebesar Rp 32 miliar yang dialokasikan untuk pendidikan di Daerah Kabupaten Tapsel.

Mahmud Lubis menilai pihak konsultan dan juga pelaksana DAK dan Disdik harus bertanggung jawab atas ambruknya SDN 101900 Pintu Padang. Sebab, sekolah tersebut sudah menerima kucuran dana DAK sebesar Rp315 juta untuk membangun tiga ruangan kelas.
Penyebab kerusakan bangun tersebut, menurut Mahmudin, pembangunannya diduga tidak mengikuti apa yang sudah dibuat dalam Rancangan Anggaran Biaya (RAB).

“Selain mengamati kondisi pembangunan yang sedang berjalan di lapangan, kita juga meneliti Rencana Anggaran Biaya (RAB). Hasil penelitian dibandingkan dengan kondisi di lapangan, ternyata empat unsur itu tidak ditemukan dari perencanaan konsultan,” katanya.
Anggaran yang ditetapkan tidak sesuai dengan kondisi daerah (real cost). Komisi III menemukan terjadinya pembengkakan dan kekurangan anggaran pada pembangunan sekolah tanpa mempertimbangkan kondisi lokasi. Pihaknya akan meminta pertanggungjawaban atas pelaksanaan DAK di Tapsel tahun 2009.
(bs/tapse/mbo/kor/sd/re/ben/red/tribunsumatera.com)
 
Selanjutnya >