portal berita online wilayah sumatera - indonesia

Friday
Mar 12th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home arrow Ekonomi arrow UMKM arrow PROTES "POLUSI " INDUSTRI, DINAS LH MEDAN LALAI
PROTES "POLUSI " INDUSTRI, DINAS LH MEDAN LALAI PDF Cetak E-mail
Saturday, 02 May 2009

Image

Medan-tribunsumatera.com
Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kota Medan dinilai lalai melakukan pengawasan terhadap keberadaan industri di Medan. Akibat kelalaian itu akhirnya warga jadi dirugikan karena telah terjadi pencemaran lingkungan.
Hal itu dikatakan Ketua Komisi B DPRD Medan HM Subandi (FPAN) didampingi anggota Jusmar Effendi (FPPP) dan Muslim Maksum (FPKS) dalam rapat dengar pendapat dengan pengusaha pabrik keripik ubi dan warga di Gedung DPRD Medan, Kamis (30/4).

Dalam rapat itu terungkap, keberadaan pabrik keripik ubi di Jalan Pelajar Timur Kelurahan Binjai Kecamatan Medan Denai itu, telah menimbulkan pencemaran lingkungan. Pencemaran yang paling dikeluhkan warga, yakni asap yang ditimbulkan pabrik ketika melakukan penggorengan dan bau tak sedap dari air pencucian ubi.

“Memang ada pencemaran lain, seperti bau busuk yang ditimbulkan pabrik. Tapi yang paling kami rasakan adalah asap yang ditimbulkan saat pabrik melakukan penggorengan,” kata Syukron, salah satu warga Jalan Pelajar.

Hal serupa juga dirasakan D Purba, yang juga warga Jalan Pelajar. Malah gara-gara asap itu katanya, dinding rumahnya jadi hitam. “Saya terpaksa lebih sering mengecat rumah jadinya,” katanya.

Sementara itu, pengusaha keripik ubi, Arwin tidak membantah jika pabrik miliknya menimbulkan keresahan warga. Namun sebelumnya dia tak pernah menyangka jika hal itu akan terjadi.

“Awalnya usaha itu adalah home industri. Hanya 10 Kg ubi yang kami buat keripik setiap hari. Namun saya juga tak menyangka kalau usaha itu jadi besar. Tapi setelah besar ternyata menimbulkan dampak kepada lingkungan,” katanya.

Agar warga tak terus-terusan dirugikan, Arwin berjanji akan merelokasi pabrik itu ke tempat lain. “Cuma saya belum menemukan lokasi yang pas. Sementara kalau pabrik saya tutup takutnya nanti berdampak terhadap pekerja,” katanya.

Mendengar hal itu, Subandi menilai semua kejadian itu terjadi akibat kelalaian Dinas Lingkungan Hidup Medan melakukan pengawasan terhadap keberadaan industri di Medan.
“Bukan cuma pabrik keripik ini saja, tapi banyak industri lain yang limbahnya mencemari lingkungan tapi lolos dari pengawasan Dinas LH, seperti usaha pencucian celana jeans di Jalan Tombak dan sejumlah rumah sakit,” katanya.
 (red/bs/bp/mb/tribunsumatera.com)
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >