| PROTES "POLUSI " INDUSTRI, DINAS LH MEDAN LALAI |
|
|
|
| Saturday, 02 May 2009 | |
|
Medan-tribunsumatera.com “Memang ada pencemaran lain, seperti bau busuk yang ditimbulkan pabrik. Tapi yang paling kami rasakan adalah asap yang ditimbulkan saat pabrik melakukan penggorengan,” kata Syukron, salah satu warga Jalan Pelajar. Hal serupa juga dirasakan D Purba, yang juga warga Jalan Pelajar. Malah gara-gara asap itu katanya, dinding rumahnya jadi hitam. “Saya terpaksa lebih sering mengecat rumah jadinya,” katanya. Sementara itu, pengusaha keripik ubi, Arwin tidak membantah jika pabrik miliknya menimbulkan keresahan warga. Namun sebelumnya dia tak pernah menyangka jika hal itu akan terjadi. “Awalnya usaha itu adalah home industri. Hanya 10 Kg ubi yang kami buat keripik setiap hari. Namun saya juga tak menyangka kalau usaha itu jadi besar. Tapi setelah besar ternyata menimbulkan dampak kepada lingkungan,” katanya. Agar warga tak terus-terusan dirugikan, Arwin berjanji akan merelokasi pabrik itu ke tempat lain. “Cuma saya belum menemukan lokasi yang pas. Sementara kalau pabrik saya tutup takutnya nanti berdampak terhadap pekerja,” katanya. Mendengar hal itu, Subandi menilai semua kejadian itu terjadi akibat kelalaian Dinas Lingkungan Hidup Medan melakukan pengawasan terhadap keberadaan industri di Medan. “Bukan cuma pabrik keripik ini saja, tapi banyak industri lain yang limbahnya mencemari lingkungan tapi lolos dari pengawasan Dinas LH, seperti usaha pencucian celana jeans di Jalan Tombak dan sejumlah rumah sakit,” katanya. (red/bs/bp/mb/tribunsumatera.com) |
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
