portal berita online wilayah sumatera - indonesia

Friday
Mar 12th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home arrow Hukum arrow Kriminalitas arrow LELAH, Kasus Antasari Wartawan Ikut "Capek"
LELAH, Kasus Antasari Wartawan Ikut "Capek" PDF Cetak E-mail
Sunday, 10 May 2009

Image

Jakarta-tribunsumatera.com
Khairul Jasmi Sejak kasus Ketua KPK Anasari mencuat, wartawan Jakarta benar-benar diuji staminya. Wartawan daerah juga berusaha mencari berbagai sisi pemberitaan. Mereka kelelahan memburu kasus yang satu ini. Mereka lelah karena berburu, mereka lelah karena hampir setiap celah sudah dimasuki, tapi rasa dahaga terus muncul.

Di Jakarta, puluhan bahkan ratusan wartawan berkumpul di Polda Metro Jaya, berlari ke kantor KPK, cigin ke rumah Antasari. Curi waktu ke rumah Rani, mampir ke rumah Wiliardi, bidik rumah pengusaha Sigit. Semua adalah nama-nama terkait dengan kasuspenembakan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran (PRB) Nasrudin Zulkarnaen.

Selain itu, wartawan juga memburu istri Antasari, Ny.Ida Laksmiwati. Wanita ini, melayani wartawan dengan tabah. terakhir dilaporkan, tensi Antasari naik, karena wartawan terus bertanya soal Rani, si caddy cantik maut itu. Beberapa teman wartawan di Jakarta yang ditelepon menyatakan, mereka takut akan tertinggal oleh teman dari media lain. Karena itu, mereka harus piket hampir 24 jam di posisi-posisi penting. Yang paling menarik disajikan untuk pembaca dan itu yang diburu.

Sebutlah misalnya soal Rani, diburu sampai ke kampus, ke rumahnya, ke tempat pernikahan sirinya dengan almarhum Zainudin. Kemudian juga digali soal “wanita-wanita tegar” yang harus tampil di depan publik, karena suaminya bermasalah. Pola kerja pers seperti itu, ibarat memeras kain cucian. Diperas sampai kering, kemudian dicari sisi lain untuk dipersa terus, sehingga pembaca pun kelelahan. Antasari misalnya, pejabat penting itu, disorot terus-menerus.

Tak lupa KPK dikuliti, terus ke DPR hinggap di Istana Negara dan mampir ke Bangka Belitung, ke rumah masa kecil Antasari. Tak sampai di sana, kamera wartawan televisi juga menyigi kantor kejaksaan tinggi tempat Antasari bekerja di Sulawesi dan di Padang. Soal Rani Juliani, caddy golf yang populer itu, dimasuki hingga halaman blognya. Malah, disigi sampai pukul berapa biasanya Rani pulang kuliah. Malah didapat keterangan oleh wartawan, seperti dilansir Bangka Pos, sejumlah mahasiswa STMIK Raharja, yang ditemui mengaku tidak mengenal Rani. Yonda, mahasiswa STMIK Raharja angkatan 2005, mengaku tak mengenal Rani.

 Dia hanya mendengar nama itu setelah Rani jadi perbincangan di kampus. “Waktu ospek, angkatan saya yang pegang angkatan 2007, tapi saya tidak kenal. Cuma dengar-dengar orangnya cantik,” kata Yonda di warung di depan kampus STMIK Raharja. Di kampus, Rani dikenal sebagai anak seorang pejabat karena selalu dijemput mobil sedan Mercedes Benz usai kuliah. Mobil itu dikendarai seorang pria berbadan tegap, berpakaian safari hitam. Dan kemarin, nyaris tak ada hal baru lagi yang bisa disiarkan televisi dan suratkabar. Maka cerita lama didaur ulang, disajikan dengan bungkus baru.

Pengulangan-pengulangan itu, jika kita teliti, akan membuat bosan. Tapi, bagaimanapun, berita tak boleh putus. Kasus Antasari merupakan kasus paling hot dan menggemparkan sepanjang 2009, bahkan mungkin sepanjang sejarah republik. Lalu, pers seolah tak percaya. Semua tergangga.

Polisi seolah mendapat emas terbungkus kain marekan. Kejaksaan gatal-gatal tangannya, sebab bagaimanapun Antasari pernah membuat wajah kejaksaan bopeng, karena KPK mengobrak-abrik kantor itu tempo hari. Hari-hari mendatang, wartawan terus piket menunggu hal-hal baru dari kasus ini. Lama kelamaan, mereka benar-benar lelah dan lupa. (bs/ann/so/tribunsumatera.com)
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >