portal berita online wilayah sumatera - indonesia

Wednesday
Mar 10th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home arrow Sumut News arrow Daerah arrow Jagung Sumut, Harga Anjlok, Hama Ganas pun Menyerang
Jagung Sumut, Harga Anjlok, Hama Ganas pun Menyerang PDF Cetak E-mail
Friday, 03 July 2009

Image

MEDAN -tribunsumatera.com
Petani jagung di Sumatera Utara mengkhawatirkan semakin mengganasnya penyakit "Hawar Daun" yang menyerang tanaman jagung di daerah itu di tengah harga jual yang juga mulai tertekan. Di Karo, serangan Hawar Daun mematikan sekitar 50 % dari luas areal tanaman petani. Kelompok tani saya sendiri tidak berani lagi menanam jagung secara besar-besaran, karena takut rugi besar," kata Sutomo Sebayang, tadi sore.

Hawar Daun itu semakin mengganas pada cuaca yang tidak menentu seperti sekarang, di mana bisa sebentar hujan deras dan tiba-tiba panas atau sebaliknya.

"Secara langsung atau melalui asosiasi Himpunan Petani Jagung Indonesia (Hipajagin), serangan hama itu sudah dilaporkan dan berharap pemerintah bisa membantu mengatasinya mengingat petani masih ingin berbisnis jagung," katanya.

Serangan penyakit itu kian dikhawatirkan karena harga jual juga  menurun dengan dalih pabrikan pasokan sedang "banjir" termasuk dari jagung impor.

Kepala Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH)  I, J.R Panjaitan, yang dikonfirmasi, mengakui, adanya temuan dan laporan tentang Hawar Daun yang menyerang tanaman jagung di Sumut.

Berdasarkan pendataan, kata dia, serangan terbesar terjadi pada tanaman di daerah dataran tingg seperti Simalungun dan Tanah Karo.

Di Simalungun ada sekitar 21 hektar tanaman jagung yang terserang Hawar Daun itu, disusul Karo seluas 8,5 hektar, Dairi 6,8 hektar,  Deli Serdang 2,5 hektar dan Langkat 2,1 hektar.

"Tapi syukurnya masih berupa serangan ringan, meski tetap saja merugikan petani jagung," katanya.

Dia menyebutkan, sulit mengatasi serangan bakteri yang bersumber dari tanah itu sendiri, mengingat selain belum ada pestisida yang terbukti mampu maksimal membasmi bakteri itu, dan penggunaan residu disarankan tidak digunakan karena untuk bahan pangan.

Hawar Daun sudah diketahui ada di Sumut sejak tahun 1997 yang mulai merusak tanaman jagung di Tanah Karo. Serangan itu baru dirasakan petani beberapa tahun terakhir ini, karena areal tanaman jagung semakin meluas.

Mengatasi bakteri itu, BPTH sudah memberikan solusi ke petani di mana petani diminta tidak melakukan secara terus-terusan penanaman jagung, tapi rotasi dengan tanaman lain.

"Kalau memang serangan sudah meluas, sebaiknya tanaman yang terkena dimusnahkan," katanya.

Distrik Sales Manager PT DuPont Indonesia Wilayah Sumatera Bagian Utara, Suwandy Purba, mengatakan, perusahaannya akan segera "melempar" varietas baru yakni P25 yang lebih tahan dengan serangan Hawar Daun termasuk penyakit busuk tongkol.

"DuPont bukan hanya terus meningkatkan produksi dan kualitas benihya, tapi berupaya menghasilkan benih yang sesuai dengan kultur tanahnya termasuk tahan dengan serangan penyakit yang biasa menyerang di suatu daerah," katanya.

“P25 akan diluncurkan Juli ini, setelah sebelumnya melakukan penanaman percontohan di lahan-lahan petani, katanya.
(bs/ann/wol/tan/red/tribunsumatera.com)
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >