NATUNA — Kabar duka datang dari keluarga Rendi Apriyanto, pemuda asal Kabupaten Natuna yang dikabarkan meninggal dunia setelah bergabung sebagai tentara bayaran di Rusia.
Di balik kepergiannya, tersimpan cerita tentang keinginan Rendi membahagiakan kedua orang tuanya. Salah satu impian yang ingin diwujudkannya adalah memberangkatkan ayah dan ibunya menjalankan ibadah umrah.
Keinginan tersebut bahkan sempat direalisasikan. Dari uang yang berhasil dikirimkan Rendi selama berada di Rusia, keluarganya telah membayar biaya pendaftaran umrah sekitar Rp60 juta.
Menurut keterangan keluarga, Rendi sebelumnya bekerja sebagai teknisi listrik di Filipina. Ia kemudian bersama sejumlah warga Indonesia berangkat ke Rusia setelah mendapatkan tawaran menjadi bagian dari militer Rusia dengan nilai kontrak yang disebut mencapai sekitar Rp600 juta untuk masa enam bulan.
Orang tua Rendi, Rustamal dan Eniyanti, mengaku mengetahui keberangkatan anak mereka. Bahkan, pihak keluarga disebut pernah diminta menandatangani sejumlah dokumen berkaitan dengan perekrutan tersebut.
Eniyanti mengenang bahwa putranya sebenarnya memiliki kegemaran mengutak-atik sepeda motor. Keluarga sempat berharap Rendi kembali ke Indonesia dan membuka usaha bengkel.
Namun, Rendi memilih melanjutkan pekerjaannya di luar negeri karena ingin terlebih dahulu mengumpulkan uang untuk memberangkatkan kedua orang tuanya ke Tanah Suci.
“Rendi kan anaknya hobi dan pandai otak atik motor,” demikian kenangan sang ibu sebagaimana diberitakan media lain.
Meski mendapatkan bayaran besar, mengirimkan uang dari Rusia ke Indonesia ternyata tidak mudah. Menurut ayahnya, Rendi beberapa kali mengalami kendala rekening dan akses perbankan. Kondisi lokasi tempatnya bekerja yang jauh dari perkotaan juga membuat proses pengiriman uang menjadi sulit.
Keluarga kemudian mendapat kabar bahwa Rendi meninggal dunia. Informasi awal disebut diterima dari rekan Rendi yang juga berada di Rusia.
Menurut keterangan keluarga, Rendi terkena serangan drone pada 20 September 2026. Namun, rincian mengenai lokasi dan kronologi kejadian masih berdasarkan informasi yang diterima keluarga dari rekan korban.
Sebelum kabar duka tersebut datang, Rendi disebut telah menjalani kontrak keduanya di Rusia. Dalam komunikasi dengan keluarga, ia bahkan pernah menyampaikan rencana untuk pulang ke Indonesia pada April 2027 dan tidak memperpanjang kontraknya.
Rencana tersebut kini tidak dapat diwujudkan.
Bagi keluarga, kepergian Rendi bukan hanya meninggalkan duka, tetapi juga menyisakan kisah tentang seorang anak yang berusaha mengumpulkan penghasilan besar demi memenuhi keinginan sederhana: membawa kedua orang tuanya menjalankan ibadah umrah. (Rs)


















